Jikalau Memang Hidup Ini Hanya Sementara
Dua bulan musim hujan berlalu, di mana-mana terlihat pohon menghijau. Seekor ulat nampak di antara dedaunan yang menghijau yang diterpa angin.
“Apa kabar daun hijau,” katanya. Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. “Oh, kamu ulat. Badanmu keliatan kurus dan kecil, mengapa?” tanya daun hijau.
“Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bolehkah engkau membantuku sahabatku?” kata ulat Cecil. “Tentu..tentu…dekatlah kemari.” Daun hijau berfikir, “Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya saja aku akan keliatan brlubang-lubang. Tapi tak apalah.” Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau.
Setelah makan dengan kenyang ulat berterimakasih lepada dauh hijau yang tellah merelakan bahagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat megucapkan terima kasih pada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas dalam diri daun hiaju. Sekalipun kini tubuhnya berlubang di sana-sini Namun ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar.
Apa yang terlalu berarti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Tak rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.
Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah.
***
Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hiaju menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah, di sapu orang dan dibakar.
Demikianlah kehidupan kita. Hidup di dunia ini hanya sementara, kemudian kita akan hidup kekal di alam lain.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”( QS Ali Imran : 169)
“Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah keni'matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.” (QS Asy Syuura : 1)
“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu.”(QS An Naml : 89)
[Ditanya kepada Imam Ali bin Abi Thalib jarak di antara timar dan barat. Jawabnya “Sehari perjalanan matahari.”. Ditanya pula kepadanya jarak antara bumi dan langit, maka jawabnya :”Doa yang mustajab”]